Farid Bagaskara Raih Tiga Penghargaan pada Business Plan Catalyst Future Competition
Mahasiswa Sastra Inggris UAD Raih Tiga Penghargaan Nasional
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh Mahasiswa Sastra Inggris UAD. Farid Bagaskara, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Universitas Ahmad Dahlan ( UAD), bersama tim berhasil meraih Juara 1 Best Idea, Juara 1 Business Plan, dan Gold Medal Business Plan pada ajang National Essay & Business Plan Catalyst Future Competition. Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Futura Innovation Hub bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Himasekta FP UNAND). Kegiatan berlangsung di Universitas Andalas, Padang, pada 22–25 Mei 2026.
Keberhasilan tersebut membuktikan bahwa Mahasiswa Sastra Inggris UAD tidak hanya berprestasi di bidang bahasa dan sastra. Selain itu, mereka juga mampu berkolaborasi lintas disiplin ilmu untuk menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Dalam kompetisi tersebut, Farid bergabung bersama Rizal Agus Setiawan dari Program Studi Bisnis Jasa Makanan sebagai ketua tim dan Muhamad Andika dari Program Studi Teknik Industri.
Farid mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya atas prestasi yang berhasil diraih. Menurutnya, seluruh proses persiapan akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan. “Alhamdulillah, kami sangat senang dan bangga bisa meraih juara. Kami juga terharu karena seluruh usaha dan kerja keras yang kami lakukan akhirnya terbayarkan dengan hasil yang memuaskan,” ungkap Farid.
Tantangan Selama Persiapan Kompetisi
Meskipun berhasil membawa pulang tiga penghargaan sekaligus, perjalanan menuju kemenangan tidak berlangsung dengan mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah membagi waktu di tengah padatnya aktivitas setiap anggota tim. Beberapa anggota sedang mengikuti kompetisi lain sehingga waktu persiapan menjadi terbatas. Akibatnya, koordinasi harus dilakukan secara intensif agar seluruh materi dapat disiapkan dengan baik.
Selain itu, tim juga menghadapi kendala pada saat babak final. Dari seluruh anggota, hanya Farid Bagaskara yang dapat hadir langsung di Padang untuk mempresentasikan karya di hadapan dewan juri. Kondisi tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran karena komunikasi antaranggota tidak selalu berjalan lancar selama masa persiapan. Namun demikian, tim berhasil mengatasi berbagai kendala tersebut sehingga presentasi berjalan dengan baik dan menghasilkan prestasi yang membanggakan.

Pengalaman Berharga Mengikuti Kompetisi
Menurut Farid, kompetisi ini menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama menempuh pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan. Kompetisi tersebut merupakan pengalaman pertamanya mengikuti lomba di bidang business plan. Selain itu, ia juga pertama kali melakukan perjalanan menggunakan pesawat seorang diri ke luar Pulau Jawa untuk mengikuti babak final. “Awalnya saya merasa ragu dan takut jika tidak bisa memberikan hasil terbaik untuk tim. Akan tetapi, pengalaman tersebut justru memberikan banyak pelajaran dan berakhir dengan hasil yang sangat memuaskan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Farid mengaku memperoleh kesempatan memperluas relasi dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Ia banyak berdiskusi mengenai inovasi, kewirausahaan, dan pengembangan produk bersama peserta dari berbagai daerah. Pengalaman tersebut kemudian semakin memotivasinya untuk terus mengikuti kompetisi di tingkat nasional maupun internasional.
Inovasi MUSHPATTY sebagai Solusi Pangan Berkelanjutan
Pada kompetisi tersebut, tim mengusung karya berjudul “MUSHPATTY: Inovasi Produk Meat Analog dengan Memanfaatkan Ampas Tahu Difortifikasi Edible Mushroom dan Serealia Menggunakan Teknologi Enzimatis Microbial Transglutaminase (MTG).” Inovasi ini berangkat dari pemanfaatan limbah ampas tahu yang masih memiliki kandungan gizi tinggi, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
Melalui inovasi MUSHPATTY, ampas tahu diolah menjadi produk meat analog berbentuk patty dengan tekstur menyerupai daging. Selanjutnya, produk tersebut diperkaya menggunakan jamur tiram, jamur kuping, kacang koro benguk, kacang koro Padang, dan kacang merah. Tim juga memanfaatkan teknologi enzimatis Microbial Transglutaminase (MTG). Teknologi tersebut meningkatkan tekstur, kekenyalan, dan kualitas produk sehingga lebih menyerupai daging konvensional. Selain ramah lingkungan, inovasi ini menawarkan alternatif pangan berbasis nabati yang bernilai ekonomi tinggi. Pemanfaatan limbah ampas tahu diharapkan mampu mengurangi pencemaran lingkungan. Di sisi lain, inovasi tersebut juga berpotensi menciptakan peluang usaha baru melalui produk pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Farid berharap capaian tersebut menjadi motivasi untuk terus mengembangkan kemampuan akademik maupun nonakademik. Selain itu, ia ingin terus mengikuti berbagai kompetisi sebagai sarana belajar, memperluas wawasan, dan membangun jejaring dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Di akhir wawancara, Farid menyampaikan pesan kepada mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan agar tidak takut mencoba berbagai kesempatan selama masa perkuliahan.
“Kalau kalian masih ragu, coba saja dulu. Gagal itu urusan belakangan, tetapi kesempatan tidak selalu datang dua kali. Carilah lingkungan yang positif agar kalian terus termotivasi menjadi pribadi yang lebih baik dan berani meraih prestasi,” pesannya.
Akhirnya, prestasi yang diraih Farid Bagaskara bersama tim menunjukkan bahwa Mahasiswa Sastra Inggris UAD mampu berkontribusi dalam pengembangan inovasi lintas disiplin ilmu. Dengan demikian, keberhasilan tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya, berkolaborasi, dan berani mengikuti berbagai kompetisi akademik maupun nonakademik di tingkat nasional maupun internasional.


